Sosialisasi Kedua SLI Operasional NTB, Edukasi Petani Golden Melon dan Semangka

  • Hatif Thirafi
  • 30 Jul 2020
Sosialisasi Kedua SLI Operasional NTB, Edukasi Petani Golden Melon dan Semangka

Lombok Tengah - Tim Stasiun Klimatologi Lombok Barat sebagai penyelenggara SLI Operasional NTB melaksanakan pertemuan kedua sosialisasi bersama kelompok petani golden melon dan semangka di Dusun Selau, Desa Kateng, Kec. Praya Barat, Kab. Lombok Tengah, Senin (27/7/2020). Pertemuan kedua ini sebagai rangkaian sosialisasi SLI Operasional yang merupakan konsep baru dari kegiatan SLI yang sebelumnya sudah pernah dilaksanakan. Pertemuan dilakukan dengan tetap memperhatikam protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran virus Covid 19.

SLI Operasional ini mempunyai tahap-tahap strategis untuk mendapatkan capaian tujuan utama SLI, seperti mendatangi langsung lokasi-lokasi usaha tani atau pertemuan rutin yang dilakukan oleh penyuluh pertanian dengan kelompok taninya. Secara garis besar, kegiatan SLI Operasional ini mengusung tema "Percepatan pemanfaatan informasi iklim guna meningkatkan produksi pertanian dan strategi pengambilan keputusan melalui pelaksanaan operasionalisasi SLI".

Sosialisasi kedua SLI Operasional NTB dibuka dengan pemaparan oleh Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Pusat Jakarta melalui aplikasi ZOOM. Selanjutnya dilanjutkan dengan pemaparan oleh para prakirawan iklim Stasiun Klimatologi Lombok Barat tentang pengenalan dan pemanfaatan alat ukur unsur cuaca serta pemanfaatan dan pemahaman informasi iklim. Proses pembelajaran berlangsung sangat menarik dengan adanya games untuk menguji pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti serangkaian acara sosialisasi terbukti dengan banyaknya diskusi sepanjang pembelajaran terjadi.

Kepemahaman para peserta terhadap informasi iklim juga diuji dengan adanya pre test dan post test. Hasil Pre dan Post Test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai cuaca dan iklim serta informasi iklim yang dikeluarkan oleh BMKG, hal tersebut terlihat dari nilai rata-rata peserta yang meningkat saat dilakukan Post-test sebesar 15%. Rata-rata hasil pre-test sebesar 44.0, sedangkan rata-rata hasil post-test sebesar 57.8.

Ke depan diharapkan para petani dapat mengimplementasikan ilmu ynag didapat dalam SLI Operasional dalam mengelola lahan pertanaman mereka untuk mengurangi resiko kerugian akibat faktor cuaca dan iklim.

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 02:42:13 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 9.28 LS - 112.61 BT
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024