SLN Provinsi Papua Barat Tahun 2019

  • Rozar Putratama
  • 28 Feb 2019
SLN  Provinsi Papua Barat Tahun 2019

Sorong - Minggu -Rabu (24-27/2) Kepala Bidang Informasi Meteorologi Maritim Eko Prasetyo, MT membuka kegiatan sekolah Lapang Nelayan Provinsi Papua Barat yang mengambil tema "Cuaca Sahabat Nelayan".

Kegiatan dibuka dengan Tarian Kreasi Modern bertema dari Sanggar Nani Bili Sorong yang menceritakan Nelayan Tanah Papua yang melaut selalu memperhatikan perkembangan cuaca untuk meningkatkan hasil tangkapan dan tentunya keselamatan selama pelayaran.

SLN Provinsi Papua Barat dilaksanakan selama 3 Hari dan turut diikuti 25 orang peserta dari Penyuluh dan Ketua Kelompok Nelayan yang berada di Kota dan Kab. Sorong.
Hadir dalam kegiatan pembukaan, Erasmus Kayadu, S.Si, M.Si selaku Kepala Stasiun Meteorologi Seigun Sorong, Balai Besar MKG Wilayah V Jayapura, Stasiun GAW Sorong, Stasiun Geofisika Sorong, dan undangan stake holder dari Dinas Perikanan Kota dan Kab. Sorong, Syahbandar Perikanan Kota dan Kab. Sorong, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sorong, Poltek Kelautan dan Perikanan Kab. Sorong, Forum Nelayan Sorong, serta SUPM Sorong.

Pemukulan Tifa menandakan kegiatan SLN dibuka dan dilanjutkan dengan pengalungan tanda peserta yang diikuti oleh seluruh peserta yang hadir. Dalam sambutannya Eko Prasetyo, MT menyampaikan "pentingnya pemahaman dalam menggukan informasi cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG demi mendukung keselamatan dan membantu para nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan di laut, peserta diharapkan menggunakan waktu selama sosialisasi ini untuk bertanya dan lebih mengenal seluruh instrumen dan pengelolaan informasi cuaca yang nantinya akan dipakai selama proses melaut".

Pembukaan dilanjutkan dengan kegiatan press conference yg dihadiri oleh media setempat. dalam wawancaranya Eko Prasetyo, MT menyampaikan " SLN ini merupakan langkah kongkrit BMKG untuk menerjemahkan bahasa teknis Meteorologi ke bahasa yg mudah dimengerti oleh nelayan dan tentunya akan sangat bermanfaat untuk kegiatan melaut para nelayan di Papua Barat".

Kegiatan SLN ini direncanakan akan terus berlanjut dilaksanakan sampai dengan beberapa tahap ditahun yang akan datang, dan kegiatan ini merupakan produk unggulan Nasional BMKG yang telah mendapatkan perhatian yang sangat baik dari pemerintah pusat.

Gempabumi Terkini

  • 20 Mei 2024, 20:42:24 WIB
  • 4.6
  • 22 km
  • 7.69 LS - 106.42 BT
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024