Sekolah Lapang Nelayan Provinsi Papua

  • Rozar Putratama
  • 03 Mei 2019
Sekolah Lapang Nelayan Provinsi Papua

Selasa (30/4/2019), bertempat di hotel Coreinn Merauke Sekolah Lapang Iklim Nelayan diselenggarakan untuk pertama kalinya di kabupaten Merauke, Papua. Kegiatan ini dihadiri oleh Ibu Nelly Florida Riama, M.Si selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke ini mendapat sambutan hangat dan antusias dari para undangan, peserta dan media cetak maupun media elektronik.

Terselenggaranya kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Perikanan dan Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Merauke. Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 20 orang yakni 4 orang dari Dinas Perikanan Kabupaten Merauke, 2 orang dari Penyuluh Perikanan, 3 orang dari Kantor Pelauhan Perikanan Nusantara Merauke, 2 orang dari koperasi perikanan, dan 9 orang yang terdiri dari nahkoda kapal dan nelayan lokal.

Kegiatan yang diselenggarakan selama 4 hari yakni sejak tanggal 30 April 2019 hingga 3 Mei 2019 ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya informasi cuaca dan iklim maritim kepada para penyuluh perikanan dan juga nelayan. Pada kegiatan ini para peserta diberikan materi tentang dinamika kelompok, mengenal cuaca dan iklim untuk kegiatan perikanan, memahami proses pembentukan awan, hujan, & gelombang, Mengenal produk infromasi cuaca dan iklim untuk kegiatan perikanan, serta Memahami Informasi Kelautan Untuk Kegiatan Perikanan.

Selain itu, para peserta melakukan kunjungan langsung ke Stasiun Meteorologi Mopah Merauke untuk mengenal peralatan pengamatan cuaca, dan kegiatan pengamatan cuaca yang dilakukan di Stamet Mopah Merauke. Peserta juga diajak untuk melihat dan memahami informasi cuaca maritim pada dislpay informasi cuaca maritim yang terpasang di Kantor Pelabuhan Perikanan Nusantara Merauke. Setelah itu, para peserta melanjutkan perjalanan ke pantai lampu satu Merauke untuk dapat melihat secara langsung kondisi cuaca maritim yang terjadi.

Pada kesempatan terakhir, Bapak Rio Marthadi, S.Si selaku Kepala Stasiun Meteorologi Mopah Merauke menutup kegiatan Sekolah Lapang Iklim Nelayan tahun 2019. Dari kegiatan ini diharapkan para peserta dapat memperoleh pengetahuan mengenai informasi cuaca maritim dan memahami akan arti pentingnya informasi cuaca maritim bagi kegiatan kelautan.

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 02:42:13 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 9.28 LS - 112.61 BT
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024