Panen Raya Secara Simbolis SLI Operasional Provinsi NTB

  • Rachmat Hidayat
  • 16 Sep 2021
Panen Raya Secara Simbolis SLI Operasional Provinsi NTB

Lombok Tengah - Kamis (9/9), Stasiun Klimatologi Lombok Barat menyelenggarakan pembukaan SLI Operasional Provinsi NTB tahun 2021. Acara pembukaan SLI Operasional ini dilaksanakan di Dusun Bombas, Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Pemilihan lokasi pada SLI Operasional NTB tahun ini merupakan kelanjutan dari pelaksanaan SLI Operasional sebelumnya. Hal ini dilakukan karena Desa Kateng telah dipilih sebagai desa binaan, sehingga beberapa tahun ke depan akan terus dipantau oleh BMKG bagaimana implementasi ilmu yang telah diperoleh oleh para peserta SLI setelah diberikan materi terkait cuaca, iklim dan perubahannya.

Kegiatan pembukaan SLI Operasional Provinsi NTB tahun 2021 diadakan dengan tetap menerapkan protocol kesehatan yang cukup ketat. Menghadirkan 25 peserta, SLI Operasional Provinsi NTB tahun 2021 juga dihadiri secara virtual oleh Anggota Komisi V DPR RI Dapil II NTB; Bapak H. Suryadi Jaya Purnama, ST, dan Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG; Bapak Dr. Ardhasena Sopaheluwakan. Dalam sambutannya, Bapak Suryadi mengapresiasi terselenggaranya SLI Operasional yang digelar BMKG karena manfaat yang dirasakan sungguh sangat besar, khususnya bagi para petani. Beliau berharap kegiatan SLI Operasional semacam ini dapat terus diselenggarakan setiap tahunnya agar ilmu yang diterima oleh para petani semakin bertambah.

Berkesempatan membuka acara secara resmi, Bapak Dr. Ardhasena mengatakan bahwa perubahan konsep penyelenggaraan SLI pada dua tahun terakhir ini bertujuan untuk mendapatkan feedback dari para peserta. Di sisi lain, konsep SLI Operasional ini lebih bersifat dua arah sehingga lebih bisa terjalin interaksi antara narasumber dan peserta SLI dalam kegiatan pembelajaran.

Acara pembukaan SLI Operasional Provinsi NTB tahun 2021 dilanjutkan dengan panen raya bawang merah secara simbolis oleh Kepala Stasiun Klimatologi Lombok Barat; Bapak Nuga Putrantijo, M.Si serta para tamu undangan yang hadir secara langsung. Setelah kegiatan panen raya secara simbolis dilakukan, dilaksanakan kegiatan pembelajaran oleh para narasumber dari BMKG dan BPTP. Materi yang disampaikan kepada para peserta berkaitan dengan pemahaman informasi iklim dan pengaruh perubahan iklim terhadap perkempangan OPT. Sesi pembelajaran berjalan baik, terlihat dari antusiasme para peserta dalam sesi diskusi bersama narasumber.

Tak lupa, untuk mengetahui tingkat pemahaman para peserta terhadap materi yang diberikan, diadakan pre-test sebelum kegiatan pembelajaran dan post-test selepas pembelajaran. Dari penilaian pre-test dan post-test ini, didapatkan hasil yang cukup baik. Hal ini terlihat dari peningkatan rata-rata nilai saat post-test sebesar 46%. Rata-rata nilai pre-test sebesar 40.4, sedangkan rata-rata hasil post-test sebesar 54.2.

Kegiatan sosialisasi SLI Operasional Provinsi NTB tahun 2021 akan kembali dilaksanakan pada tanggal 16 dan 23 September 2021 mendatang di tempat yang berbeda dan juga peserta yang berbeda. Di masa mendatang, diharapkan para petani dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat selama SLI Operasional dalam mengelola lahan pertanaman mereka untuk mengurangi resiko kerugian akibat faktor cuaca dan iklim.

Gempabumi Terkini

  • 20 Mei 2024, 20:42:24 WIB
  • 4.6
  • 22 km
  • 7.69 LS - 106.42 BT
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024