Kontribusi Aktif Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo dalam Posko Angkutan Udara Lebaran Tahun 2019/1440 H

  • Rozar Putratama
  • 01 Jun 2019
Kontribusi Aktif Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo dalam Posko Angkutan Udara Lebaran Tahun 2019/1440 H

Gorontalo - (29/5) Kegiatan apel gelar pasukan posko angkutan udara lebaran tahun 1440 H (2019) di wilayah kerja Provinsi Gorontalo dilaksanakan di Kantor UPBU (Unit Penyelenggara Bandar Udara) Djalaluddin Gorontalo. Pembukaan apel ini dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait mencakup Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo, Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo, Maskapai Penerbangan di wilayah Gorontalo, Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan), Kantor Angkasa Pura Logistik Gorontalo, Kantor Kesehatan Pelabuhan Gorontalo, Kantor Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Gorontalo, Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas II, Kantor Pemadam Kebakaran Gorontalo, serta berbagai instansi terkait. Dalam sambutannya, Kepala Kantor UPBU Kelas I Djalaluddin Gorontalo, Power A.S Sihaloho, menyatakan harapannya agar tiap instansi yang turut andil dalam kegiatan posko berkontribusi secara maksimal dalam menyukseskan posko angkutan udara lebaran 2019 ini. Beberapa hal yang harus diperhatikan yakni, memperhatikan keamanan dan peninjauan pelayanan bandara, serta mengoptimalkan pelayanan kepada para penumpang. Hal ini kelak diharapkan dapat memberikan keamanan, kelancaran, dan kenyamanan para penumpang angkutan udara lebaran di Provinsi Gorontalo.

Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo sebagai penyedia informasi layanan cuaca juga turut mengambil andil dalam kegiatan posko lebaran kali ini. Display Informasi Cuaca telah dipakai secara aktif untuk para pengguna jasa Bandara Djalaluddin Gorontalo. Selain itu, pengawasan dan pengecekan display secara berkala juga senantiasa dilaksanakan untuk mengoptimalkan pelayanan info cuaca kepada para stakeholder terkait. Penyediaan informasi cuaca untuk kelancaran penerbangan juga dilakukan dengan pengiriman info melalui berbagai jejaring media sosial yang terhubung dengan berbagai para pelaku angkutan udara, seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, maupun surat elektronik berupa e-mail. Hal ini berguna untuk melancarkan pengiriman informasi cuaca kepada pengguna jasa, terkhusus dalam kegiatan posko lebaran angkutan udara tahun 2019.

Kegiatan dilanjutkan dengan memberi informasi terkait posko angkutan laut lebaran tahun 2019 kepada para wartawan. Dalam wawancara tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo, Muh. Jamal Nganro menegaskan adanya penurunan pengguna jasa angkutan udara berkisar 15%- 35 % di wilayah Gorontalo untuk tahun 2019. Meskipun demikian, setiap instansi terkait termasuk Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo tetap harus mengoptimalkan pelayan terbaik serta bersinergi secara aktif dalam melakukan pelayanan angkutan lebaran di Provinsi Gorontalo. Peran Stasiun Meteorologi Djalaluddin Gorontalo sebagai penyedia info cuaca sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kelancaran penerbangan.

Kegiatan pembukaan apel angkutan udara lebaran ini juga dimanfaatkan oleh Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo untuk menjalin kerjasama secara aktif serta survey tanggapan dengan berbagai instansi terkait yang membutuhkan informasi cuaca untuk peningkatan pelayan mutu informasi cuaca. Untuk ke depannya, diharapkan kegiatan posko angkutan udara lebaran ini dapat terlaksana dengan baik demi keselamatan dan kenyamanan para pelaku jasa angkutan udara di Bandara Djalaluddin Gorontalo.

 

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 02:42:13 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 9.28 LS - 112.61 BT
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024