Tingkatkan Kompetensi Teknis Bidang Tugas, Pusdiklat BMKG Gelar Pelatihan Teknis Peralatan Meteorologi Tahun 2021

  • Rachmat Hidayat
  • 14 Okt 2021
Tingkatkan Kompetensi Teknis Bidang Tugas, Pusdiklat BMKG Gelar Pelatihan Teknis Peralatan Meteorologi Tahun 2021

Jakarta - Kamis (14/10), Di era globalisasi yang kompetitif dan penuh inovasi saat ini, tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan kompetensi pegawai adalah kemampuan para teknisi untuk beradaptasi dalam mengembangkan kemampuannya untuk menjawab permasalahan teknis yang terjadi di lapangan, Hal ini dikatakan Deputi Inskalrekjarkom Dr. Suko Prayitno Adi, M.Si saat memberi kata sambutan secara virtual dalam pembukaan Pelatihan Teknis Peralatan Meteorologi Tahun 2020

Karena kedepan, menurut Suko Prayitno Adi permasalahan teknis di lapangan akan semakin komplek dengan semakin komplek pula peralatan yang di miliki BMKG guna menunjang kegiatan operasional terlebih Kegiatan pemeliharaaan peralatan dilakukan secara berkala dan bersifat korektif dan preventif, dalam melakukan kegiatan tersebut dibutuhkan persiapan, manual maintenance hingga monitoring data, paparnya.

Untuk menjawab tantangan di atas, khususnya pada bidang teknis peralatan meteorologi yang nantinya diharapkan akan dapat di implementasikan untuk menjawab permasalahan teknis di lapangan khususnya pada peralatan meteorologi. Beliau apresiasi dengan terselenggaranya Pelatihan Teknis Peralatan Meteorologi yang diadakan Pusdiklat BMKG, diharapkan sebagai upaya untuk peningkatan kompetensi kepada para teknisi khususnya teknisi pada peralatan bidang meteorologi dapat berjalan dan berfungsi dengan baik dilingkungan BMKG dapat terwujud.

Kegiatan Pelatihan Teknis yang diadakan selama 11 (sebelas) hari kedepan dari tanggal 14 sampai dengan 29 Oktober 2021 diikuti 41 (empat puluh satu) orang yang berasal dari UPT dan Pusat, dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi teknisi UPT Stasiun dalam mengoperasikan, pemeliharaan, dan perbaikan peralatan Meteorologi AWOS (Automatic Weather Observation System) Kategori I, serta AWS (Automatic Weather System) Digital dan AWS (Automatic Weather System) Maritim, serta melakukan troubleshooting atas masalah-masalah yang terjadi sehingga peralatan Meteorologi senantiasa dalam kondisi baik.

Sasaran Pelatihan Teknis Peralatan Meteorologi Tahun 2021 adalah agar terwujudnya PNS yang memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam pemeliharaan peralatan meteorologi secara professional.

Gempabumi Terkini

  • 20 Mei 2024, 20:42:24 WIB
  • 4.6
  • 22 km
  • 7.69 LS - 106.42 BT
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024