Rapat Kordinasi Lintas Sektoral Pengamanan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019

  • Murni Kemala Dewi
  • 21 Des 2018
Rapat Kordinasi Lintas Sektoral Pengamanan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019

Papua, 20 Des 2018/ Bertempat di Gedung Rasta Samara Kepolisian Daerah Papua, Kapolda Papua Irjen Pol Drs. Martuani Sormin, M.Si melaksanakan kegiatan Rapat Kordinasi Lintas Sektoral Pengamanan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Hadir pada kegiatan tersebut Kasdam 17 Cenderawasih Brigjen TNI I Nyoman Cantiasa, Wakapolda Drs. Yakobus Marjuki dan Wakil Walikota Jayapura Ir. Rustam Saru, FKUB Provinsi Papua Pejabat di lingkungan Polda serta pejabat dinas terkait. Hadir mewakili Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura, Kepala Bidang Data dan Informasi Herlambang Hudha, S.Si, M.Si.

Pada kesempatan tersebut Kapolda Papua menyampaikan ajakan agar seluruh sektor bisa bekerjasama baik dari sisi kebijakan, program dan pelaksana teknis dan operator bersinergi agar perayaan natal dan tahun baru bisa berlangsung untuk secara aman, nyaman dan kondusif. Kapolda juga menyampaikan agar operator perhubungan baik udara, darat, laut agar mencermati data dan informasi yang dikeluarkan oleh BMKG untuk keselamatan transportasi menjelang Natal dan Tahun Baru. Kasdam 17 Cenderawasih menyampaikan kesiapan TNI baik TNI AD, TNI AL, TNI AU mendukung Kepolisian Daerah Papua dalam mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru. Wakil Walikota memberikan sambutan terkait ketersediaan Sembilan Bahan Pokok (sembako), sidak bahan makanan kadaluarsa, dan kebijakan Pemerintah Kota Jayapura terkait pelarangan penjualan minuman keras dan petasan di Kota Jayapura.

Kepala Bidang Data dan Informasi Herlambang Hudha, S.Si, M.Si menyampaikan paparan terkait kondisi iklim dan cuaca menjelang Natal dan Tahun baru. Disampaikan bahwa iklim pada saat menjelang natal sebagian Papua sudah memasuki musim hujan terutama daerah utara Papua seperti Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom. Untuk cuaca di Papua kota dan kabupaten sebagian besar berawan dan berpotensi hujan ringan dan sedang, sedangkan tinggi gelombang yang perlu diwaspadai adalah di utara Papua mencapai 2 - 4.5 meter.

Gempabumi Terkini

  • 20 Mei 2024, 20:42:24 WIB
  • 4.6
  • 22 km
  • 7.69 LS - 106.42 BT
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024